MAKALAH PERANAN KELUARGA DAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. latar belakang

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang paling mendasar dalam siklus kehidupan manusia mulai lahir hingga akhir hayat (long life education). Secara konsep, pendidikan merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertangung jawab. Pendidikan adalah suatu proses transfer of knowledge (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) yang dilakukan oleh guru kepada anak didiknya. Selain itu, pendidikan adalah alat untuk merubah cara berpikir kita dari cara berpikir tradisional ke cara berpikir ilmiah (modern).

Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas tidak terlepas dari adanya peran keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Menurut Hasbullah (1997), dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah; fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah..

Dilihat dari lingkungan pendidikan, masyarakat disebut lingkungan pendidikan nonformal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan terencana kepada sluruh anggotanya, tetapi tidak sistematis tanpa dukungan masyarakat, pendidikan tidak akan berhasil dengan maksimal. Sekarang hampir semua sekolah mempunyai komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah, sebab masyarakat dari berbagai lapisan sosial ekonomi sudah sadar betapa pentingnya dukungan mereka untuk keberhasilan pembelajaran di sekolah.Dengan demikian keluarga, pemerintah, dan masyarakat sangat berperan penting dalam pembentukan pendidikan yang berkualitas.

 

1.2  Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian Pendidikan?

2.      ApaFungsi Pendidikan?

3.      Apa manfaat Pendidikan?

4.      Bagaimana peran keluarga dalam mendidik anak?

5.      Apa saja tujuan orang tua mendidik anak ?

6.      Bagaimana peran masyarakat dalam pendidikan?

 

1.3 Tujuan Penulis

1.      untuk mengetahui pengertian pendidikan

2.      untuk mengetahui fungsi pendidikan

3.      Untuk mengetahui manfaat pendidikan

4.      Menjelaskan peran keluarga terhadap pendidikan anak

5.      Menjelaskan tujuan orang tua mendidik anak.

6.      Untuk menjelaskan peran masyarakat terhadap pendidikan anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.     Pengertian Pendidikan

Pengertian Pendidikan secara umum adalah proses pengajaran suatu pengetahuan, keterampilan atau kebiasaan dari satu generasi ke generasi lain dibawah bimbingan seseorang secara langsung atau secara otodidak (belajar sendiri).

Pendidikan adalah proses pembelajaran bagi peserta didik agar dapat mengetahui, mengevaluasi dan menerapkan setiap ilmu yang didapat dari pembelajaran di kelas atau pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Secara etimologi pendidikan berasal dari bahasa latin ducare yang artinya memimpin, menuntun atau mengarahkan, sedangkan e berarti “keluar” maksudnya dari dalam ke luar atau dari sedikit menjadi banyak. Pendidikan menuntun seseorang keluar dari ketidaktahuan tentang sesuatu menjadi tahu.

Secara khusus proses pendidikan terjadi di ruang kelas atau suasana pembelajaran formal (sd- perkuliahan). Namun, secara umum pendidikan dilakukan dimana saja, baik melalui pembelajaran online, home-schooling, otodidak, pembelajaran tatap muka atau pengalaman pribadi.

B.     Fungsi Pendidikan

1.      Mempersiapkan masyarakat agar dirinya dapat mencari nafkah dengan lebih mandiri

2.      Proses membangun serta mengembangkan minat atau pun bakat dari peserta didik, baik itu untuk kepuasan pribadi atau pun demi kepentingan masyarakat umum.

3.      Sebagai tindakan pelestarian budaya yang ada di lingkungan masyarakat itu sendiri.

4.      Proses penanaman keterampilan yang juga dibutuhkan pada keikutsertaannya dalam kegiatan demokrasi.

5.      Sebagai proses transfer/pemindahan budaya atau adat istiadat dari generasi terdahulu ke generasi selanjutnya

6.      Memilih dan mengajarkan peranan social

7.      Bentuk integrasi sosial yang ada di lingkungan masyarakat

8.      Melalui lembaga pendidikan juga dapat digunakan untuk mengajarkan bentuk dari corak kepribadian

9.      Menjadikannya sebagai sumber inovasi dalam kehidupan sosial di lingkungan masyarakat.

10.  Mensosialisasikan pada peserta didik mengenai perbedaan atau kultur yang ada di masyarakat luas, mulai dari perbedaan agama, suku dan juga budaya.

 

C.     Manfaat Pendidikan

Pendidikan memiliki beragam manfaat yang dapat dirasakan siswa disaat itu juga ataupun di masa depannya. Berikut ini adalah beberapa manfaat pendidikan secara umum.

1.      Mengetahui Suatu Ilmu

2.      Belajar Mengerjakan Sesuatu

3.      Belajar Memecahkan Masalah

4.      Mengembangkan Diri dan Lingkungan

5.      Belajar Bekerja Sama

6.      Menciptakan Generasi Penerus Bangsa yang Unggul

7.      Mendapatkan Gelar untuk Karir

8.      Belajar tentang Sebab – Akibat

9.      Membentuk Karakter Bermartabat dan Berbudi Pekerti Luhur.

 

D.    Peran Keluarga Dalam pendidikan

Keluarga merupakan lingkungan terdekat dari setiap individu, utamanya bagi seorang anak. Pengetahuan, pemahaman dan interaksi yang mereka dapatkan pertama kali adalah dari lingkungan keluarga, sekaligus seiring waktu yang akan mengiringi perkembangan mereka. Sedangkan lingkungan kedua yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak adalah lingkungan sekolah, dan lingkungan ketiga adalah masyarakat.

Menurut Hornby, 1995 (dalam Hornby dan Witte, 2010) Keterlibatan aktif dan dukungan keluarga diidentifikasi sebagai kunci kesuksesan program pendidikan inklusif sejak dini. Bahkan faktor penting di dalam  kesuksesan sekolah inklusif   adalah   keterlibatan   orangtua  di   dalam pendidikan anaknya, khususnya bagi siswa berkebutuhan khusus. Hal ini dikarenakan  keterlibatan orangtua terbukti sangat efektif dalam meningkatkan perkembangan anak dalam hal belajar dan memodifikasi tingkah laku mereka (Hornby, 2005).

Beberapa penelitian tersebut menegaskan akan pentingnya peran keluarga terhadap perkembangan jiwa anak serta keberhasilan pendidikan anak dengan berbagai kondisi anak itu sendiri. Beberapa aspek penting dari peran keluarga dalam pendidikan anak antara lain:

1.      Keharmonisan Orangtua

Disadari maupun tidak, anak-anak adalah pengamat dan peniru yang baik. Pada  usia dini, mereka mampu mengamati dan meniru apapun yang mereka dapatkan dari lingkungan mereka. Seiring perkembangan usia, anak mulai memahami setiap kejadian yang ada.  Hal utama yang menjadi fokus mereka dan memberikan efek yang luar biasa adalah keharmonisan antara ayah dan ibu. Keharmonisan inilah yang akan menjadi titik utama yang akan memancarkan hidupnya suasana dalam keluarga.

Kondisi hubungan antara ayah dan ibu dapat dibaca dengan jelas oleh anak-anak.  Hal ini merupakan pukulan hebat bagi setiap anak ketika diantara ayah dan ibu sudah tidak ada lagi keharmonisan. Setiap peristiwa maupun keheningan dan dinginnya suasana antara ayah dan ibu akan terekam dan menjadi kenyataan pahit bagi anak.

Reaksi yang ditunjukkan oleh anak-anak pun bermacam-macam sesuai sifat dan kepribadian masing-masing.  Kadang-kadang anak menjadi pendiam dan mengurung diri, jarang di rumah, pemarah, bahkan sikap anak bisa mengarah  menjadi destruktif. Reaksi-reaksi tersebut merupakan cara bagi mereka untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa keluarga mereka telah hancur. Sudah tidak ada tempat yang nyaman kembali untuk pulang, seakan ada satu yang hilang dari jiwa mereka.

2.      Kesepakatan Program dan Teknik Mendidik Anak

Keharmonisan orangtua yang terjalin akan menghasilkan kesepakatan dan ide-ide yang positif dalam mengelola semua kegiatan di dalam rumah tangga. Setiap langkah yang akan diambil sebaiknya dibicarakan dengan baik dan matang. Segala sesuatu harus disepakati bersama untuk menyamakan visi dan misi sehingga tidak akan menyalahkan salah satu pihak. Misalnya ayah dan ibu harus sepakat dan menjalankan kesepakatan bersama dalam memilih tempat belajar anak, memilih cara mendidik anak di rumah, penerapan kedisplinan, sopan santun, dan sebagainya. Hal ini sangat penting demi keberhasilan pendidikan anak. Bermain peran yang dimainkan antara ayah dan ibu juga harus disepakati. Misalnya  ayah berperan sebagai sosok yang disegani dan ibu sebagai sosok yang lembut dan penggunaan hati sebagai pendekatan kepada anak. Peran-peran yang dijalankan dengan baik itu akan mengimbangi segi emosional dan tingkat berfikir anak.

3.      Perhatian Orangtua terhadap Anak

Seiring dengan perkembangan jaman, muncullah teknnologi canggih dan berbagai fasilitas yang dimiliki setiap individu. Materi memang sangat diperlukan dalam mencukupi setiap kebutuhan anak. Akan tetapi terdapat satu hal utama yang harus diberikan secara intens kepada anak, yaitu perhatian orangtua.

Perhatian yang diberikan dalam segala hal terhadap anak-anak akan memberikan kontribusi positif sekaligus kontrol yang baik bagi anak. Sebagai contoh ketika anak-anak tengah menonton televisi, ayah dan ibu dapat memberikan perhatian dengan menemaninya dan memberikan tambahan informasi serta arahan terhadap program televisi yang tengah dinikmati anak-anak. Tidak semua program televisi mengandung hal positif pada seluruh tayangannya, maka diperlukan arahan dan bimbingan orangtua agar anak tidak salah mengartikan apa yang mereka lihat. Hal ini juga mengingat bahwa saat ini tayangan televisi kurang baik dan minim unsur pendidikan bagi para penontonnya.

4.      Komunikasi yang demokratis

Saat perhatian orangtua diberikan kepada anak maka akan terjalin komunikasi. Komunikasi yang dilakukan harus diupayakan seimbang dan terbuka. Ayah dan ibu harus mampu berperan sebagai orangtua, teman, partner maupun sebagai guru privat bagi anak-anak di rumah.

Selain memberikan pendidikan baik berupa sopan santun, akhlak mulia, keagamaan, maupun ilmu akademis, orangtua juga harus mampu menjadi tempat curhat bagi anak-anak. Tempat yang aman untuk menampung masalah yang dihadapi anak-anak adalah orangtua. Berilah alternatif solusi dan saran yang bijak bagi anak-anak. Hargai dan Berikan kesempatan anak untuk berargumen dan mengutarakan pendapatnya. Komunikasi yang terjalin saat itu akan membangun daya pikir dan kematangan mental anak.

5.      Apresiasi terhadap hasil belajar anak

Kegiatan apapun yang dilakukan anak serta bagaimanapun juga hasilnya berilah penghargaan dan apresiasi yang positif. Tidak ada hal yang sempurna di dunia ini maka berilah pujian serta  komentar yang positif dan membangun agar anak lebih semangat berkarya dan tidak alergi terhadap kritikan.

Baik disadari oleh orangtua maupun tidak, pada dasarnya anak selalu ingin menunjukkan hasil karya mereka kepada orangtua. Sekecil apapun hasil yang mereka lakukan, mereka ingin pengakuan dari orangtua. Diperlukan kejelian dan sikap bijak orangtua saat anak-anak berusaha menunjukkan hasil karya mereka. Walaupun tampak berantakan cara membereskan mainan atau tempat tidur mereka, hargailah upaya yang telah mereka lakukan dan berikan komentar positif sambil mengajak anak-anak untuk lebih merapikannya. Hal kecil seperti ini akan meningkatkan rasa bangga dan kepercayaan diri mereka serta melatih untuk melakukan pekerjaan dengan lebih tepat. Dan juga tidak ada salahnya jika diberi reward sederhana dengan dibuatkan makanan atau minuman istimewa yang mereka sukai.

6.      Menghadiri kegiatan anak di sekolah

Keberhasilan pendidikan anak di sekolah tidak dapat dipisahkan dari peran serta orangtua. Terdapat beberapa program dari sekolah yang ditujukan untuk pengembangan dan peningkatan prestasi siswa. Orangtua dapat berperan serta dengan memberikan kontribusi baik berupa dukungan materiil maupun keikutsertaan dalam program tersebut. Upayakan menghadiri setiap undangan kegiatan dari sekolah. Tunjukkan kepada anak bahwa orangtua perduli dan mendukung program sekolah mereka.Kehadiran ayah dan ibu saat pentas seni anak di sekolah merupakan kebahagiaan dan kebanggaan bagi mereka. Jangan lupa memberikan penghargaan dan pujian atas tampilan mereka. 

7.      Menjadi Guru

Guru tak hanya ditemukan di sekolah, mereka yang bisa mengajar orang lain merupakan guru. Namun, ada guru yang dianggap baik karena mengajarkan hal baik atau justru sebaliknya. Peran pertama keluarga tentu menjadi guru bagi sang anak, dimana anak ketika membuka mata. Maka keluargalah yang membantu menjelaskan apa yang anak lihat, hingga mereka beranjak menjadi anak-anak yang sudah mengerti akan hal di dunia. Namun peranan keluarga tidak berhenti juga, setiap anggota pasti bisa dan mungkin menjadi guru dari anggota lain yang masih anak.

8.      Menjadi Teman

Siapa yang mengatakan bahwa pendidikan yang kaku dan aneh bisa menjamin anak tersebut memiliki pendidikan yang baik dan pribadi yang juga baik. Orang tua bisa berperan menjadi teman ketika berbicara mengenai pendidikan anak (Baca: Cara Menghilangkan Trauma Pada Anak). Pihak keluarga lainya pun seperti itu, dimana mereka bisa saja membiasakan diri untuk menjadi teman anak-anak dalam belajar. Seringkali anak merasa takut dan malas jika belajar diawasi dengan keluarga, terutama mereka yang sudah bersekolah dan sudah tahu akan suasana sekolah serta teman. Jadilah teman mereka dalam mengenal lingkungan dan belajar ketika dirumah.

9.      Seorang hakim

Selain menjadi teman atau guru, keluarga juga bisa menjadi seorang hakim bagi anak tersebut (. Hakim disini dimaksudkan bahwa mereka harus bisa membantu menentukan hal yang anak-anak tidak mengerti atau tidak ketahui. Terutama demi kebaikan anak tersebut dan orang banyak. Selain itu, ada juga hal yang paling fatal jika peranan ini tidak dilaksanakan, dimana anak mungkin tidak tahu dengan jelas mana hal yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan oleh keluarga.Terkadang menjadi hakim merupakan hal utama yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga.

10.  Pengawas

Sebagai keluarga, mengawasi merupakan fungsi utama dari keluarga untuk anak (Baca: Faktor Penyebab Kenakalan Anak). Dimana pengawasan merupakan hal utama yang harus dilakukan bahkan sampai anak sudah menjadi dewasa, bahkan hingga anak sudah siap melepas diri atau mandiri. Namun sayangnya beberapa pihak keluarga terkadang terlalu berlebihan dalam mengawasi anaknya hingga mereka tidak bisa berkembang dengan baik, bahkan anak cenderung tertutup dan tidak senang bersosialisasi dan belajar akan hal baru. Cobalah buat batasan dengan jelas tanpa menyebabkan kerugian pada anak-anak (Baca: Hambatan Perkembangan Anak).

11.  Mengontrol dan Mengatur Waktu Anak

Mengontrol dan mengatur anak-anak mungkin menjadi hal buruk bagi sebagian orang, namun kontrol diharuskan dalam pendidikan anak (Baca: Cara Mengatasi Anak Pemarah). Memang hal tersebut adalah peranan keluarga yang dilakukan sejak awal. Sejak dini anak-anak harus diatur dan didisplinkan untuk bisa mengatur waktu dengan baik, sehingga besar nanti mereka akan terbiasa dengan hal yang teratur. Nah, mengatur anak merupakan salah satu peran keluarga dalam pendidikan yang bisa diterapkan pada anak-anak.

12.  Merangkul Anak

Merangkul anak mungkin terdengar mudah, namun kenyataanya bahkan hingga anak dewasa dan telah meninggalkan keluarga inti untuk menikah. Banyak keluarga yang tidak bisa saling merangkul. Terutama jika mereka terbentur masalah keluarga seperti merawat orang tua atau masalah warisan dan harta.Kasih sayang merupakan salah satu hal yang bisa diajarkan pada anak oleh pihak keluarga, terutama keluarga inti seperti ayah, ibu dan kakak atau adik. Merangkul anak menjadi peranan besar yang dibutuhkan anak dari keluarga. Mereka yang tidak tahu dunia luar, pasti membutuhkan rangkulan keluarga.

13.  Membimbing Anak

Apakah penting keluarga membimbing anak ? jawabannya sangatlah penting. Kepribadian dan jalan pikir setiap anak berbeda. Mungkin ada beberapa anak yang masih bisa bertahan di keadaan yang sangat tidak baik, namun ada juga anak yang terpengaruh jika tidak dibimbing kearah yang lebih baik.harus dilakukan setiap orang tua, atau keluarga. Membimbing anak memang gampang-gampang mudah, dimana anak-anak merupakan tahapan dari perkembangan manusia dan belum tahu apapun, sehingga mereka harus diberikan bimbingan dan juga arahan agar tidak mengenal hal yang salah.

14.  Membantu Rencana Pendidikan Anak

Pendidikan merupakan gerbang utama untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Meskipun ada faktor lain yang mempengaruhi, banyak juga yang menganggap bahwa pendidikan merupakan poin utama untuk bisa menggapai kehidupan yang lebih baik selanjutnya. Begitupun pilihan pendidikan pada masing-masing anak.Membantu rencana pendidikan anak merupakan poin selanjutnya peran keluarga untuk pendidikan anak. Mereka mungkin merasa bingung dan tidak tahu dengan pilihan, memang pilihan kembali pada masing-masing anak. Namun orang tua berhak memberikan penjelasan atas masing-masing pilihan mereka. Misalnya anak memilih untuk berkarir dan bercita-cita menjadi Pilot atau Masinis. Silahkan anda jelaskan kelebihan dan kekurangan keduanya tanpa memaksa mereka. Hal ini merupakan peranan yang paling dibutuhkan oleh banyak anak-anak.

15.  Membangun Sosial Anak

Membangun lingkungan sosial anak merupakan hal yang paling dibutuhkan dalam keluarga. Banyak anak yang harus menghadapi keluarga yang hancur atau berantakan, dan hal tersebut berpengaruh pada sosialisasi anak dan kepribadian mereka (Baca: Tipe Kepribadian Melankolis). Selain itu, membangun sosial bisa berasal dari sikap keluarga ke sesama anggota ataupun pada anggota di keluarga besar. Dengan bersikap baik tentu anakpun akan mengikuti untuk membangun dunia sosial yang baik juga.

16.  Menciptakan Lingkungan Baik

Menciptakan lingkungan yang baik merupakan poin terakhir yang diberikan sebuah keluarga. Ikan hias akan berasal dari kolam ikan indah, namun ikan paus berasal dari lautan luas. Anda bebas memilih ingin memberikan lingkungan yang baik atau tidak pada anak-anak. Namun resiko haruslah anda tanggung, ketika mereka harus menghadapi lingkungan yang tidak baik. Terutama jika mereka masih usia sangat belia dan harus menghadapi hal yang dianggap belum sanggup ditanggung seorang anak (Baca: Psikologi Anak). Sehingga, usahakanlah anda menciptakan lingkungan yang baik ketika ada seorang anak tumbuh di tengah keluarga anda.

 

E.     Tujuan pendidikan orang tua untuk anak

Pada dasarnya tujuan pendidikan dalam keluarga adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri seorang anak sedari kecil. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat kita bagi dalam tiga aspek utama, yaitu dari aspek pribadi, moral, dan sosial. Dari aspek pribadi tujuan dari pendidikan adalah mengajarkan kepada anak agar kedepannya menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam artian anak kelak mampu menjadi individu yang dapat menjaga nama keluarga dan membanggakan bagi kedua orang tua.Aspek kedua yang dimaksudkan disini adalah dari sisi moral. Pendidikan dalam keluarga penting untuk memberikan bekal moral bagi bagi anak. Keluarga adalah tempat wal pendidikan dimulai. Pendidikan moral dalam keluarga tidak hanya berisi penyampaian mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Anak pasti juga akan melihat tingkah laku orang tuanya. Karena itu, sebagai orang tua bersikaplah dengan baik karena anak anda akan meniru perbuatan anda.

Dalam aspek sosial tujuan yang ingin dicapai adalah menciptakan generasi yang berguna tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi lingkup sosial yang lebih besar. Sedari dini anak telah ditanamkan nilai-nilai luhur agar mampu menjadi pribadi yang baik kedepannya. Bekal yang ditanamkan dari orang tua bertujuan agar anak memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Tujuan pendidikan dalam keluarga akan tercapai ketika orang tua juga belajar untuk bertanggung jawab dengan perbuatannya agar semua aspek pembelajaran dapat diterima oleh anak dengan baik.

Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak sebenarnya lebih besar dibanding ke sepuluh poin diatas. keluarga bisa dikatakan  sebagai hal membahagiakan yang bisa didapatkan oleh manusia. Hanya keluarga yang bisa memberikan pendidikan terbaik, pelajaran terbaik dan kasih sayang terbesar pada manusia. Khusunya anak-anak yang masih belum tahu seperti apa dunia dan belum bisa menentukan dengan jelas harus melakukan apa mereka, atau harus memilih hal yang baik dan buruk secara tepat.

Manusia adalah makhluk sosial yaitu makhluk yang memiliki dorongan untuk  hidup berkelompok secara bersama-sama. Oleh karena itu, dimensi sosial menyatu kepada kepentingan sebagai makhluk sosial, yang didasari pada pemahaman bahwa manusia hidup  pendidikan itu sendiri. Semakin besar output sekolah tersebut dengan disertai kualitas yang mantap dalam artian mampu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas maka tentu saja pengaruhnya sangat positif bagi masyarakat, sebaliknya meskipun lembaga pendidikan mampu mengeluarkan outputnya tapi dengan SDM yang rendah secara kualitas, itu juga jadi masalah tidak saja bagi output yang bersangkutan tapi berpengaruh juga bagi masyarakat.

Pendidikan dan masyarakat saling keterkaitan, untuk  mengembangkan pendidikan diperlukan partisipasi dari masyarakat, untuk  selalu peduli akan berpengaruh pendidikan terhadap kehidupan masyarakat. Masyarakat dalam konteks ini berperan sebagai subjek atau pelaku pendidikan, tanpa adanya kesadaran masyarakat akan pendidikan, maka negara tidak akan berkembang, kita akan  tergantung pada orang atau negara lain yang jauh lebih berkembang dari kita, maka dari itu peranan masyarakat terhadap pendidikan sangat berpengaruh untuk  perkembangan wilayah atau negaranya sendiri, melalui pendidikan masyarakat dapat memperoleh ilmu yang dapat ia manfaatkan di dalam kehidupan untuk  kesejahteraan bersama.

Pembinaan dan Tanggungjawab Pendidikan oleh Masyarakat. Bila dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan banyak orang yang dengan berbagai ragam kualitas  diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi. Baiknya kualitas suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan para anggotanya, makin baik pendidikan anggotanya, makin baik pula kualitas masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat merupakan lembaga pendidikan yang ketiga setelah pendidikan dilingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan sebenarnya masih belum jelas, tidak  jelas tanggung jawab pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah. Hal ini disebabkan faktor waktu, hubungan, sifat dan isi pergaulan yang  terjadi di masyarakat. Meski demikian masyarakat mempunyai peran yang besar dalam pelaksanaan pendidikan nasional. Peran masyarakat antara lain menciptakan suasana yang dapat menunjang pelaksanaan pendidikan. Nasional, ikut melaksanakan pendidikan non pemerintah (sosial).

Walaupun tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan belum jelas, akan tetapi masyarakat harus berperan aktif dalam pendidikan, karena masyarakat merupakan lembaga pendidikan yang ketiga setelah lingkungan keluarga dan sekolah. Olehnya itu untuk  memperoleh kualitas yang baik terhadap pendidikan, maka kualitas masyarakat pun harus baik, agar saling menunjang antara satu dan lainnya, jika kualitas pendidikannya baik maka akan menghasilkan keluarga keluaran atau hasil didik yang baik pula secara keseluruhan.

 

F.      Peran Masyarakat dalam Pendidikan

Masyarakat selaku pengguna jasa lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk mengembangkan serta menjaga keberlangsungan penyelenggaraan proses pendidikan, sebagaimana diamanatkan oleh Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 BAB IV yang didalamnya memuat bahwasannya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Peran serta masyarakat / partisipasi masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan . selain itu masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana dan pengguna hasil.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 1992 BAB III pasal 4 peran serta / partisipasi maysarakat dapat berbentuk:

a)      Pendirian dan penyelenggaraan satuan pendidikan pada jalur pendidikan sekolah atau jalur pendidikan luar sekolah, pada semua jenis pendidikan kecuali pendidikan kedinasan, dan pada semua jenjang pendidikan di jalur pendidikan sekolah;

b)      Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga kependidikan untuk melaksanakan atau membantu melaksanakan pengajaran, pembimbingan dan/atau pelatihan peserta didik;

c)      Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga ahli untuk membantu pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar dan/atau penelitian dan pengembangan;

d)     Pengadaan dan/atau penyelenggaraan program pendidikan yang belum diadakan dan/atau diselenggarakan oleh Pemerintah untuk menunjang pendidikan nasional;

e)      Pengadaan dana dan pemberian bantuan yang dapat berupa wakaf, hibah, sumbangan, pinjaman, beasiswa, dan bentuk lain yang sejenis;

f)       Pengadaan dan pemberian bantuan ruangan, gedung, dan tanah untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar;

g)      Pengadaan dan pemberian bantuan buku pelajaran dan peralatan pendidikan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar;

h)      Pemberian kesempatan untuk magang dan/atau latihan kerja;

i)        Pemberian bantuan manajemen bagi penyelenggaraan satuan pendidikan dan pengembangan pendidikan nasional;

j)        Pemberian pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan penentuan kebijaksanaan dan/atau penyelenggaraan pengembangan pendidikan;

k)      Pemberian bantuan dari kerjasama dalam kegiatan penelitian dan pengembangan; dan

l)        Keikutsertaan dalam program pendidikan dan/atau penelitian yang diselenggarakan oleh Pemerintah di dalam dan/atau di luar negeri.

Partisipasi merupakan prasyarat penting bagi peningkatan mutu. Partisipasi merupakan proses eksternalisasi individu, sebagaimana dijelaskan oleh Berger, bahwa eksternalisasi adalah suatu pencurahan kehadiran manusia secara terus menerus kedalam dunia, baik dalam aktifitas fisik maupun mental. Pada proses eksternalisasi menurut Berger, adalah suatu keharusan karena manusia pada praktiknya tidak bisa berhenti dari proses pencurahan diri kedalam dunia yang ditempatinya. Manusia akan bergerak keluar mengekspresikan diri dalam dunia sekelilingnya. Partisipasi sebagai proses interaksi social ditentukan oleh objektifitas yang ditentukan oleh individu dalam dunia intersubjektif yang dapat dibedakan oleh kondisi sosiokultural sekolah.

Bagi sekolah partisipasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan adalah kenyataan objektif yang dalam pemahamannya ditentukan oleh kondisi subjektif orang tua siswa. Dengan demikian, partisipasi menuntut adanya pemahaman yang sama atau objektivasi dari sekolah dan orang tua dalam tujuan sekolah. Artinya, tidak cukup dipahami oleh sekolah bahwa partisipasi sebagai bagian yang penting bagi keberhasilan sekolah dalam meningkatkan mutu, karena tujuan mutu menjadi sulit diperoleh jika pemahaman dalam dunia intersubjektif (siswa, orang tua, dan guru) menunjukkan kesenjangann pengetahuan tentang mutu.[2] Tujuan partisipasi juga meberi peluang secara luas peran masyarakat dalam bidang pendidikan ini sekaligus menunjukkan bahwa Negara bukan satu-satunya penyelenggara pendidikan.[3]

A.     Bentuk-bentuk Peran Masyarakat dalam Pendidikan.

Desentralisasi pendidikan memerlukan partisipasi masyarakat. Dalam hal ini tujuan partisipasi sebagai upaya peningkatan mutu pada satuan pendidikan cukup variatif. Bentuk partisipatif yaitu dalam Manajemen Berbasis Sekolah, partisipasi orang tua dalam program mutu, komite sekolah, pembiayaan sekolah, mengatasi problem anak, partisipasi dalam disiplin sekolah, partisipasi edukatif dalam perspektif siswa dan partisipasi guru dalam resiliensi sekolah. Bentuk-bentuk partisipasi yang terjadi pada satuan pendidikan dan masalah yang dihadapi oleh sekolah yang secara umum dideskripsikan sebagai berikut:

Bentuk Partisipasi Masyarakat

1.      Pihak masyarakat     bermusyawarah dengan sekolah.

2.      Pemerintah menyediakan sarana-prasarana sekolah.

3.      Komite sekolah berpartisipasi aktif.

4.      Pemanfaatan potensi yang ada

5.      Masyarakat memiliki gotong royong

Berdasarkan tangga partisipasi belum semua sekolah mampu menggerakkan partisipasi masyarakat pada tangga yang tertinggi

Partisipasi masyarakat dalam pendidikan

1.      Kesiapan SDM secara profesional.

2.      Stakeholder mendukung program sekolah.

3.      Menghadiri pertemuan sekolah untuk mengetahui perkembangan siswa.

4.      Membantu murid belajar

5.      Mencari sumber-sumber lain/pendukung untuk memecahkan masalah pendidikan

Belum semua masyarakat, khususnya orang tua pada sekolah menyadari bahwa untuk terlibat secara aktif dalam pembangunan pendidikan.

 

B.     Hambatan Dalam Mengiktsertakan Masyarakat Dalam Pendidikan.

Deskripsi diatas memberikan gambaran yang lebih empirik bahwa masyarakat pada dasarnya cenderung berpartisipasi dalam pembangunan pendidikan, tetapi disisi lain tidak mudah untuk mengajak masyarakat berpartisipasi. Hambatan yang dialami oleh sekolah untuk mengajak partisipasi masyarakat dalam perbaikan mutu pendidikan membuktikan, belum sepenuhnya disadari sebagai tanggung jawab bersama. Realitas tersebut menguatkan asumsi sepenuhnya bahwa partisipasi tidak mudah diwujudkan, karena ada hambatan yang bersumber dari pemerintah dan masyarakat.

Dari pihak pemerintah, kendala yang muncul dapat berupa:

1.      Lemahnya komitmen politik para pengambil keputusan didaerah untuk secara sungguh-sungguh melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut pelayanan public.

2.      Lemahnya dukungan SDM yang dapat diandalkan untuk mengimplementasikan strategi peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelayanan public.

3.      Rendahnya kemampuan lembaga legislative dalam mengaktualisasikan kepentingan masyarakat.

4.      Lemahnya dukunngan angggaran, karena kegiatan partisipasi public sering kali hanya dilihat sebagai proyek, maka pemerintah tidak menjalankan dana secara berkelanjutan

Sedangkan pihak masyarakat, kendala partisipasi muncul karena beberapa hal, antara lain:

1.      Budaya paternalism yang dianut oleh masyarakat menyulitkan untuk melakukan diskusi secara terbuka.

2.      Apatisme karena selama ini masyarakat jarang dilibatkan dalam pembuatan keputusan oleh pemerintah daerah.

3.      Tidak adanya trust masyarakat kepada pemerintah.

 

C.     Upaya Meningkatkan Masyarakat Dalam Kebijakan Pendidikan.

Pembuatan dan pelasksanaan kebijaksanaan haruslah senantiasa berusaha agar kebijaksanaan yang digulirkan melibatkan sebangay mungkin partisipasi masyarakat, terutama dalam hal pelaksanaannya. Inilah perlunya upaya dan rekayasa.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

a.         Menawarkan sanksi atas masyarakat yang tidak mau berpartisipasi. Sanksi demikian dapat berupa hukuman, denda, dan karugian-kerugian yang harus diderita oleh si pelanggar.

b.         Menawarkan hadiah kepada mereka yang mau  berpartisipasi. Hadiah yang demikian berdasarkan kuantitas dan tingkatan atau derajat partisipasinya.

c.         Melakukan persuasi kepada masyarakat dalam kebijaksanaan yang dilalaksanakan, justru akan menguntungkan masyarakat sendiri, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

d.        Menghimbau masyarakat untun turut berpartisipasi melalui serangkaian kegiatan.

e.         Mengaitkan partisipasi masyarakat dengan layanan birokrasi yang lebih baik.

f.          Menggunakan tokoh-tokoh kunci masyarakat yang mempunyai khalayak banyak untuk ikut serta dalam kebijaksanaan, agar  masyarakat kebanyakan yang menjadi pengikutnya juga sekaligus ikut serta dalam kebijaksanaan yang diimplementasika.

g.         Mengaitkan keikutsertaan masyarakat dalam implementasi kebijaksanaan dengan kepentingan mereka. Masyarakat memang perlu diyakini, bahwa ada banyak kepentingan mereka yang terlayani dengan baik, jika mereka berpartisipasidalam kebijaksanaan.

h.         Menyadari masyarakat untuk ikut berpartisipasi terhadap kebijaksanaan yang telah ditetapkan secara sah tersebut, adalah salah satu dari wujud pelaksanaan dan perwujudan aspirasi

BAB III

PENUTUP

A.     Kesimpulan

Dari uraian pembahasan di atas seluruhnya, dapa ditarik benah merah sebagai berikut. Fungsi keluarga dalam pendidikan adalah 1. Sebagai peletak dasar pendidikan anak, dan 2. Sebagai persiapan kearah kehidupan anak dalam masyarakat.Berbagai faktor yang ada dan terjadi dalam keluarga akan turut menentukan kualitas proses dan hasil pendidikan anak. Jenis keluarga, gaya kepemimpinan orang tua, kedudukan anak dalam struktur keanggotaan keluarga, fasilitas yang ada dalam keluarga, hubungan keluarga dengan dunia luar, status sosial ekonomi orang tua, dan sebagainya akan turut mempengaruhi pendidikan anak dalam keluarga, yang pada akhirnya akan turut pula mempengaruhi pribadi anak.Pengaruh peranan keluarga dan masyarakat dalam pendidikan untuk memajukan pendidikan terlebih lagi apabila terjalinnya komunikasi yang baik.antara keluarga dan masyarakat untuk membentuk anak didik yang berpendidikan baik dari sikap, perilaku, dan agamanya. ketiga hubungan inimenjadikannya sebagai sumber pelajaran yang baik bagi perkembangan pendidikan yang terus berkembang

B.     Kritik dan Saran

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami senantiasa menanti kritik yang konsruktif dan saran yang solutif dari para pembaca yang budiman guna perbaikan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi para akademisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://dosenpsikologicom.

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

http://mendidikanakanak.blogspot.com

http://satyaharidevi.blogspot.com.

http://perankeluargadalampendidikan.blogspot.comh

ttps://www.academia.eduhttp://widayusari.blogspot.com

http://rocky-alsumbawa.blogspot.com

http://tomiwbs06.blogspot.com


untuk melihat contoh teks sejarah. teman-teman dapat mengklik link berikut ini:

https://nursaidas12.blogspot.com/2019/09/contoh-teks-sejarah-muhammad-hatta.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sitem Koordinat dan Penerapannya

Statistik: Konsep Pengolahan Data dan Penerapannya

MISKONSEPSI TERKAIT KONSEP BILANGAN DAN BANGUN DATAR